Jakarta – “Senangkan banyak orang merupakan kebahagiaan hakiki. Dulu saya hanya fokus kumpulkan uang agar hidup bahagia dan tenang. Rupanya kekayaan materi, tidak menjamin hati akan tenang. Justru yang sering tumbuh rasa khawatir dan takut. Melihat animo warga yang butuh tempat bermain, maka dibangunlah tempat untuk bermain tenis meja, kebetulan saya punya lahan kosong,” demikian Tisan (sapaan akrabnya) kepada Media Bhayangkara Magazine belum lama ini di Kemayoran Jakarta Pusat.
Wartawan Bhayangkara pun ikut bermain dan olahraga di GOR khusus Tenis Meja milik Tisan di Kemayoran Jakarta Pusat. Tempatnya representatif, bersih nyaman, ada hiburan lantunan lagu-lagu lawas, tersedia kedai minum, meja kursi yang tertata rapi untuk para pemain.
Dari unsur religinya, tersedia mushola, sehingga pemain begitu mendengar adzan, langsung hentikan kegiatan untuk sholat. Dari sisi keamanan, para pemain tidak perlu risau kehilangan motor, sebab ada tempat parkir yang aman.

Menyaksikan itu semua, wartawan Bhayangkara terusik untuk ungkap hingga lakukan obrolan ringan dengan Tisan, berikut obrolannya :
(HMT) : Membangun gedung ini, secara ekonomis tentu rugi, karena tidak menghasilkan kapital. Apa yang mendorong anda melakukan ini?
(TISAN) : Saya pernah baca dan juga dapat dari guru saya, bahwa sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Karena nggak bisa dakwah melalui lisan, maka saya coba amalkan melalui karya nyata, agar teman-teman bisa bermain tenis dengan senang hati. Saya melakukan secuil ini semoga bermanfaat bagi orang banyak.
(HMT) : Orang yang datang bermain cukup banyak. Bagaimana pengaturan jadwalnya?
(TISAN) : Kita buka setiap hari, dari pagi hingga pukul 14.00. Malam sampai pukul 24.00. Hari Jum’at libur. Jika adzan tiba, semua kegiatan berhenti untuk sholat. Kalau sudah selesai baru lanjut lagi.
(HMT) : Anda luar biasa. Bagaimana sikap keluarga dengan banyaknya orang yang datang, tentu terjadi bising, apa mereka tidak terganggu?.
(TISAN) : Alhamdulillah saya fahamkan kepada keluarga, bahwa dengan banyaknya orang yang datang dan mereka senang, secara otomatis kita dapat pahala yang besar. Karena itu istri dan anak-anak faham, malah ikut senang.
Sebelumnya penulis mengira bahwa Pak Tisan yang keturunan Tionghoa itu berkeyakinan sebagaimana umumnya orang Tionghoa. Tetapi ternyata beliau mualaf.
(HMT) : Anda mualaf. Sudah berapa lama berubah keyakinan?.
(TISAN) : Iya saya mualaf, ucap suami dari Sri Puji Astuti dengan rendah hati. Karena merasa belakangan menjadi Islam dan tentu tertinggal, sehingga saya belajar dan berusaha maksimal untuk perbaiki diri. Alhamdulillah istri dan 3 orang anak (Celvin Denis CH, Elisya viviana CH, Aditya irfanul faqih CH) saling bantu mengingatkan jika salah satunya lalai. (Risky)















