Jakarta – Dunia kini berada di ambang krisis energi dan logistik yang lebih dalam. Dana Moneter Internasional (IMF) secara resmi menyuarakan kekhawatiran serius terkait lumpuhnya lalu lintas di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menegaskan bahwa gangguan fisik pada rantai pasok global bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kenyataan yang mulai memukul ekonomi, terutama di kawasan Asia.
“Kami sangat prihatin. Terutama di Asia yang sangat bergantung pada impor dari kawasan Teluk. Kelangkaan mulai terjadi, tidak hanya pada minyak dan gas, tetapi juga komoditas krusial lainnya seperti nafta dan helium,” ujar Georgieva dalam keterangan resminya, Rabu (15/4/2026).
April Jadi Bulan Paling Kelam
Georgieva memberikan peringatan keras bahwa kondisi pada April 2026 akan jauh lebih berat dibandingkan Maret. Penyebabnya adalah habisnya stok kiriman lama.
Kapal-kapal tanker yang sempat berangkat sebelum pecahnya konflik pada 28 Februari lalu kini telah sampai di tujuan. Masalahnya, tidak ada pengiriman baru yang bisa menembus blokade.
“Maret memang sulit, tapi April mungkin akan lebih sulit lagi. Kenapa? Karena kapal tanker yang berangkat sebelum 28 Februari sudah tiba, dan saat ini praktis tidak ada pengiriman baru yang datang,” jelasnya.
Menghadapi situasi ini, IMF menyarankan negara-negara terdampak untuk segera mengambil langkah darurat penghematan energi. Georgieva mengusulkan kebijakan radikal seperti menggratiskan transportasi umum hingga mendorong kembali pola kerja jarak jauh (work from home) guna menekan konsumsi bahan bakar.
Blokade di Jantung Energi Dunia
Ketegangan di Selat Hormuz mencapai puncaknya setelah Angkatan Laut AS mulai memblokade seluruh lalu lintas maritim di pintu masuk dan keluar pelabuhan Iran sejak Senin (13/4/2026). Washington bersikeras bahwa blokade ini ditujukan untuk memutus aliran pendapatan Teheran.
Pihak AS menyatakan kapal non-Iran tetap diizinkan melintas, dengan syarat ketat: dilarang membayar bea masuk atau pajak apa pun kepada otoritas Teheran. Hingga kini, Iran dikabarkan tengah menggodok rencana pemberlakuan bea tersebut, namun belum ada pengumuman resmi.
Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi energi dunia. Blokade de facto di wilayah ini otomatis menyetop aliran minyak dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, yang memicu ketidakpastian ekonomi di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (Risky)












