Wamen Stella Ungkap Indonesia Punya Potensi Jadi Pemain Utama AI

Berita9 Views

Jakarta – Indonesia punya potensi besar untuk tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga pemain utama dalam kancah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) global. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie.

Meski saat ini teknologi AI masih didominasi negara maju, Stella optimis kesenjangan tersebut bisa dipangkas. Syaratnya? Indonesia harus berani “bermain cerdas” dengan strategi yang tepat sasaran.

Berikut adalah tiga kunci utama dari Wamen Stella agar Indonesia bisa memimpin di era AI:

  1. Jangan “Palugada”, Fokus pada Kekuatan Lokal

Alih-alih mencoba menguasai semua bidang AI, Stella mendorong Indonesia untuk memiliki spesialisasi yang tidak dimiliki negara lain.

“Kita harus asah kemampuan yang tepat dan terspesialisasi. Contohnya, kita adalah penghasil rumput laut terbesar di dunia. Kenapa tidak kita jadikan itu kekuatan riset AI kita?” ujarnya. Dengan fokus pada aset nasional, Indonesia bisa menciptakan inovasi yang unik dan menjadi rujukan dunia.

  1. Data adalah “Emas”, Kelola Sendiri!

AI butuh tiga bahan bakar utama: data, algoritma, dan kekuatan pemrosesan. Stella menekankan bahwa Indonesia adalah “tambang data” yang luar biasa besar.

Namun, ia mengingatkan pentingnya kemandirian infrastruktur. “Kita punya potensi besar dari sisi ketersediaan data. Tapi, kita harus sadar untuk mengelola data tersebut dengan aman di dalam negeri,” tegasnya. Selain itu, pembangunan pusat data (data center) di tanah air harus dipastikan ramah energi agar tidak membebani kebutuhan listrik rakyat.

  1. Riset tak Lagi hanya Andalkan Kantong Pemerintah

Kabar baik bagi dunia inovasi: pola pembiayaan riset kini berubah. Stella menjelaskan bahwa Kemdiktisaintek mulai menggeser beban riset agar tidak melulu bergantung pada anggaran pemerintah.

Melalui skema konsorsium dan kemitraan antara pemerintah dan industri, riset AI akan lebih relevan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Artinya, hasil penelitian tidak akan berakhir di laci meja, melainkan menjadi solusi nyata bagi pembangunan nasional.

“AI harus kita gunakan untuk pembangunan, bukan sebaliknya,” pungkas Stella. Dengan kombinasi pendidikan yang terspesialisasi, investasi infrastruktur yang hijau, dan kolaborasi swasta, Indonesia siap melompat lebih tinggi di panggung teknologi dunia. (Lucas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *