Israel Setujui Gencatan Senjata 10 Hari dengan Lebanon

Politik24 Views

Washington, DC – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel telah menyetujui gencatan senjata sementara selama 10 hari dengan Lebanon, tetapi menegaskan pasukannya akan tetap berada di Lebanon selatan meskipun ada tuntutan penarikan mundur oleh Hizbullah.

Dalam pernyataannya Netanyahu mengatakan dia telah menyetujui “gencatan senjata sementara selama 10 hari” untuk melanjutkan diskusi yang digelar antara pejabat Lebanon dan Israel di Washington, DC awal pekan ini.

“Hizbullah menuntut agar kami mundur ke garis internasional dan menerapkan prinsip damai untuk damai. Saya tidak menyetujui salah satu dari tuntutan ini,” katanya, melansir Anadolu (17/4/2026).

Dia menambahkan, pasukan Israel akan tetap berada di dalam “zona keamanan yang diperluas” di Lebanon selatan.

“Tentara akan tetap berada di seluruh zona penyangga yang membentang dari laut hingga Peternakan Shebaa dan jalan menuju Gunung Hermon, hingga perbatasan Suriah,” katanya.

Lebih lanjut Ia mengatakan Israel memasuki perundingan dengan dua syarat: pelucutan senjata Hizbullah dan perjanjian perdamaian abadi dengan Pemerintah Lebanon.

“Ada peluang untuk perjanjian perdamaian bersejarah dengan Lebanon karena kita telah mengubah keseimbangan kekuatan,” klaimnya.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon yang dimulai tengah malam waktu setempat (21:00 GMT) di Beirut dan Tel Aviv.

“Saya baru saja melakukan percakapan yang sangat baik dengan Presiden Joseph Aoun yang sangat dihormati, dari Lebanon, dan Perdana Menteri Bibi Netanyahu, dari Israel,” kata Trump di Truth Social miliknya, merujuk Netanyahu dengan nama panggilannya.

“Kedua pemimpin ini telah sepakat bahwa untuk mencapai perdamaian antara negara mereka, mereka akan secara resmi memulai gencatan senjata 10 hari pada pukul 5 sore EST,” tambahnya.

Pengumuman ini menyusul pembicaraan yang dimediasi AS antara delegasi Lebanon dan Israel yang berlangsung Selasa di Departemen Luar Negeri di Washington, DC. Kelompok Hizbullah tidak diwakili dalam pertemuan tersebut.

Diketahui, Israel melancarkan serangan terbaru terhadap Lebanon pada 2 Maret, menewaskan 2.196 orang dan melukai 7.185 lainnya, serta menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi, menurut angka resmi. (Fredy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *