Merasa Kecolongan dengan Ketua Ombudsman, Komisi II DPR: Kami Minta Maaf

Politik43 Views

Jakarta – Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Zulfikar Arse Sadikin prihatin atas ditetapkan Ketua Ombudsman RI, Hery Susanto, sebagai tersangka dalam kasus dalam tindak pidana korupsi dalam hal tata kelola usaha pertambangan di nikel di Sulawesi Tenggara (Sultra) oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) RI.

Ia mengingatkan pejabat dan penyelenggara negara lainnya untuk belajar dari peristiwa tersebut agar tidak ada lagi yang tersandung masalah korupsi.

“Kami dari Komisi II prihatin apa yang terjadi dengan Ketua Ombudsman Republik Indonesia. Dan mari peristiwa ini kita jadikan pelajaran untuk kita semua, terutama para penyelenggara negara, agar tidak terus-menerus ada kejadian berulang seperti ini,” ujar Zulfikar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Ia mengatakan, Komisi II DPR menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut terhadap proses hukum yang berjalan di Kejagung.

“Kalau memang ya terkait dengan hukum tentu kita harus ikuti, dan kita serahkan sepenuhnya kepada prosedur, mekanisme, dan aturan hukum yang berlaku di negara kita,” katanya.

Zulfikar juga meminta maaf kepada masyarakat karena Komisi II DPR ‘kecolongan’ dalam melakukan pengawasan terhadap ombudsman. Khususnya pemilihan Hery Susanto sebagai ketua Ombudsman RI.

“Kalau memang ada yang salah dari kami Komisi II dalam menjalankan fungsi, fungsi pengawasan terutama, kami minta maaf kepada publik ya. Termasuk ketika kami melakukan fit and proper test pada saat yang bersangkutan mau kita pilih lagi, karena terus terang kami tidak tahu persis masalah itu,” ungkapnya.

“Dan ketika fit and proper test dilakukan, kami juga percaya sepenuhnya dengan apa yang dihasilkan oleh Timsel (Tim Seleksi). Tentu Timsel juga sudah sangat bekerja dengan baik saat itu, transparan, dan objektif. Sehingga ketika menghasilkan 18 nama yang dibawa ke DPR, ya kami berasumsi bahwa itulah yang terbaik. Kita tinggal memilih dari 18 itu sembilan yang paling baik dari yang terbaik. Dan menurut kami ya, sembilan itulah yang memang pantas dan layak kami pilih pada saat itu,” sambung Zulfikar. (Norman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *