Jakarta – Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkap perhatian Presiden RI Prabowo Subianto terhadap penguatan budaya membaca di lingkungan pendidikan. Kebiasaan membaca dinilai penting untuk membentuk kualitas generasi muda sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi tantangan di masa depan.
Menurut Prasetyo, perhatian Presiden Prabowo terhadap budaya membaca tidak terlepas dari kebiasaan yang telah ditanamkan sejak kecil dalam lingkungan keluarganya. Sejak usia belia, Prabowo disebut telah dibiasakan untuk membaca buku secara rutin, membuat rangkuman, kemudian menyampaikannya kepada orang tua.
“Sejak usia belia, keluarga Pak Mitro selalu mewajibkan putra-putrinya untuk setiap minggu membaca sekian buku, kemudian membuat rangkuman dan disampaikan kepada orang tua. Itu adalah juga cara mendidik yang kami juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dikdasmen untuk itu juga mulai kita galakan lagi, mulai kita giatkan lagi, gemar membaca buku dan wajib membaca buku bagi kita semua,” ujar Menteri Pras dalam keterangannya, dikutip Sabtu (8/8/2026).
Prasetyo mengatakan, kebiasaan tersebut kini ingin kembali digalakkan dalam lingkungan pendidikan nasional. Budaya membaca diharapkan tidak hanya menjadi aktivitas tambahan, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari peserta didik.
Selain mendorong kegemaran membaca, Presiden Prabowo juga memberikan perhatian terhadap kualitas buku yang digunakan para siswa. Buku pelajaran diharapkan memiliki tampilan yang lebih menarik, ukuran huruf yang nyaman dibaca, serta menggunakan bahan berkualitas agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang.
“Kalau tampilan tadi sudah kami jelaskan, penginnya besar, menarik, tulisan tidak kecil-kecil, bahannya pun juga yang bagus supaya itu bisa bertahan dalam sekian waktu. Mungkin kadang-kadang, dulu kan ada yang buku ini tidak dimiliki pribadi dan kemudian bisa diwariskan atau dipakai oleh adik kelasnya,” jelasnya.
Menurut Prasetyo, penguatan budaya membaca tersebut berjalan seiring dengan perhatian Presiden terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Selain literasi, pemerintah juga mendorong penguatan pembelajaran sains dan teknologi serta kemampuan berbahasa asing untuk membekali generasi muda menghadapi persaingan global.
“Mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi, basic-nya adalah salah satu contohnya adalah matematika. Yang ketiga, untuk menghadapi kompetisi global, salah satu concern beliau adalah kemampuan bahasa asing, salah satunya adalah bahasa Inggris,” kata Menteri Pras. (Risky)













Komentar