BMKG Ingatkan Risiko Krisis Air hingga Karhutla akibat Kemarau dan El Nino

Nasional20 Dilihat

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi iklim ekstrem. Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia saat ini tengah berada dalam periode puncak musim kemarau yang diperparah oleh ancaman fenomena El Nino berintensitas sangat kuat.

“Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sedang dalam periode puncak musim kemarau. Kami perkirakan puncak musim kemarau terjadi pada periode Agustus hingga September 2026 ini,” ujar Fachri Radjab dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).

Fachri menjelaskan dampak musim kemarau tahun ini kian signifikan akibat pengaruh fenomena iklim global yang aktif bersamaan.

“Musim kemarau kita tahun ini diperparah dengan aktifnya fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat. El Nino kita perkirakan masih akan berlangsung sampai awal 2027,” kata dia.

Kondisi musim kemarau yang berbarengan dengan El Nino tersebut meningkatkan risiko berkurangnya curah hujan dan memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia. Situasi ini berpotensi berdampak langsung pada penurunan pasokan air bersih, gangguan produksi pangan di sektor pertanian, serta meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan.

BMKG memprediksi peralihan menuju musim penghujan baru akan mulai terjadi secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan.

“Peralihan ke musim penghujan, kami prediksi akan berlangsung pada pertengahan Oktober hingga akhir November 2026 ini,” tambah Fachri.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG terus memantau ketat perkembangan dinamika atmosfer dan mendiseminasikan data iklim terkini kepada kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah.

Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pijakan untuk memastikan ketersediaan air pasokan, optimalisasi pengelolaan lahan pertanian, serta penguatan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. (Lucas)

Komentar