UNIFIL Sebut Perdamaian di Lebanon Selatan Masih Sulit Dicapai

Berita5 Dilihat

Kota Naqoura – Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) pada Hari Selasa menyatakan perdamaian di Lebanon selatan masih “sulit dicapai,” seraya menegaskan bahwa pengakhiran konflik secara permanen memerlukan kemauan politik dari pihak-pihak yang bertikai.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangka memperingati Hari Perdamaian Internasional yang jatuh setiap tanggal 21 September. UNIFIL sendiri telah memperingatinya pada Senin malam melalui sebuah upacara di markas besarnya di Kota Naqoura, Lebanon Selatan.

“Saat ini, perdamaian di Lebanon selatan masih sulit dicapai, namun harapan akan perdamaian tetap ada,” ujar UNIFIL, sembari menekankan perdamaian abadi membutuhkan “komitmen politik dan solusi dari pihak-pihak itu sendiri,” melansir Anadolu (22/7).

“Pasukan penjaga perdamaian dapat membantu memulihkan stabilitas, mencegah kesalahpahaman, dan mengurangi risiko eskalasi—namun mereka tidak dapat menggantikan kemauan politik serta keputusan yang diperlukan untuk mengakhiri konflik secara permanen,” demikian pernyataan tersebut.

“Perdamaian bukanlah hal yang kita tangani hanya setahun sekali; ini adalah tanggung jawab yang berkelanjutan,” kata Kepala Misi sekaligus Komandan Pasukan UNIFIL, Mayor Jenderal Diodato Abagnara.

“Kami melakukan patroli dan menjaga saluran komunikasi tetap terbuka dengan pihak-pihak terkait guna mengurangi risiko kesalahpahaman dan eskalasi. Kami bekerja sama dengan Angkatan Bersenjata Lebanon seiring mereka memikul tanggung jawab yang lebih besar di wilayah selatan,” tandas Abagnara.

Lebih jauh ia menegaskan, tanggung jawab untuk mencapai solusi politik berada di tangan pihak-pihak yang bertikai, sementara “UNIFIL akan terus menjalankan perannya dengan menjaga komunikasi tetap terbuka, mengurangi risiko eskalasi, dan mendukung upaya diplomatik.”

Implementasi penuh Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 “tetap menjadi tujuan serta landasan bagi perdamaian dan stabilitas abadi di Lebanon selatan,” tambah Abagnara.

“Kerja sama yang berkelanjutan antara Angkatan Bersenjata Lebanon dan pasukan penjaga perdamaian tetap menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas serta mendukung perluasan otoritas negara di wilayah selatan,” imbuhnya.

Diketahui, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 1701 pada Bulan Agustus 2006 menyusul perang selama 33 hari antara militer Israel dan Hizbullah.

Resolusi tersebut menyerukan penghentian total permusuhan antara Lebanon dan Israel, serta menetapkan agar wilayah di antara Garis Biru (Blue Line) dan Sungai Litani di Lebanon selatan bebas dari senjata dan personel bersenjata, kecuali yang berasal dari tentara Lebanon dan UNIFIL. Mata pencaharian yang terganggu

UNIFIL menyatakan konflik saat ini telah memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka, dan banyak di antaranya masih mengungsi.

“Konflik ini telah mengganggu mata pencaharian, menyebabkan kerusakan luas pada rumah dan infrastruktur, serta mengakibatkan kematian dan cedera di kalangan warga sipil,” tambahnya.

Diketahui, serangan Israel terhadap Lebanon sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 4.386 orang, melukai 12.407 lainnya, dan menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi, menurut otoritas Lebanon.

Serangan tersebut terus berlanjut meskipun kedua negara telah menandatangani perjanjian kerangka kerja yang ditengahi AS pada 26 Juni, yang mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki sebagai imbalan atas pengerahan tentara Lebanon dan pelucutan senjata Hizbullah.

Israel menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan – beberapa di antaranya telah diduduki selama beberapa dekade dan lainnya sejak perang tahun 2023-2024 – sementara pasukan Israel telah bergerak maju lebih dari 10 kilometer (6,2 mil) selama ofensif saat ini. (Lucas)

Komentar