Bantah Denny Indrayana Soal Ijazah Gibran, Grace Natalie: Jangan Paksa Sistem Pendidikan Indonesia ke Luar Negeri

Politik5 Dilihat

Jakarta – Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie membantah klaim Denny Indrayana yang menyebut Gibran Rakabuming Raka tidak lulus SMA atau sederajat sehingga harus didiskualifikasi sebagai wakil presiden. Menurut Grace, klaim itu bermasalah karena menggunakan ukuran sistem pendidikan Indonesia untuk menilai riwayat pendidikan Gibran di luar negeri.

Grace menilai perjalanan pendidikan Gibran tidak bisa dilihat hanya dari ada atau tidaknya ijazah SMA seperti yang berlaku dalam sistem pendidikan Indonesia. Apalagi, Gibran diketahui menempuh pendidikan di Indonesia, Singapura, hingga Australia yang memiliki jalur pendidikan berbeda.

“Pernyataan itu punya masalah yang sangat mendasar, yaitu kita sedang memaksakan sistem pendidikan Indonesia untuk membaca sistem pendidikan di negara lain,” kata Grace dalam video yang diunggah di akun media sosial pribadinya, Selasa (6/10/2026).

Ia menjelaskan, sistem pendidikan Indonesia umumnya mengenal jenjang SMP, SMA kelas 10, 11, dan 12, kemudian siswa mendapatkan ijazah SMA sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi. Pola tersebut tidak otomatis berlaku di negara lain.

“Di negara lain, ada banyak jalur. Misalnya O level, A level, ada foundation, pathway, diploma, advance diploma. Mas Gibran menempuh pendidikan di tiga negara. Indonesia, Singapura, dan Australia,” ucap Grace.

Menurut Grace, perbedaan sistem pendidikan tersebut menjadi alasan riwayat pendidikan seseorang yang menempuh sekolah di luar negeri tidak bisa dinilai hanya dari keberadaan dokumen dengan nomenklatur yang lazim digunakan di Indonesia.

“Ketiganya punya sistem yang berbeda. Tidak bisa sistem yang berbeda-beda dengan menggunakan nomenklatur pendidikan di Indonesia,” lanjutnya.

Pernyataan Grace itu menanggapi sikap Denny Indrayana yang tetap mempertanyakan status pendidikan menengah Gibran. Denny sebelumnya mempersoalkan dokumen pendidikan Gibran di UTS Insearch Australia karena yang tercantum adalah Certificate of Attendance dan transkrip, bukan ijazah atau tanda tamat SMA.

Grace kemudian mempertanyakan konsekuensi jika logika tersebut diterapkan kepada seluruh pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri melalui jalur yang berbeda dari sistem pendidikan nasional.

“Pertanyaan saya sederhana saja: jika logika ini diterapkan secara konsisten, lalu bagaimana nasib anak-anak Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri, masuk universitas melalui jalur pathway, foundation, atau diploma atau sistem lain yang tidak mengenal ijazah SMA seperti di Indonesia? Apakah anak-anak ini mau dianggap tidak tamat SMA?” cecar dia.

Ia mengatakan Indonesia memiliki mekanisme penyetaraan untuk menilai pendidikan yang ditempuh warga negara di luar negeri. Menurut Grace, penilaian tersebut tidak berhenti pada satu dokumen yang disebut sebagai ijazah SMA.

Grace merujuk pada penjelasan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi terkait mekanisme penyetaraan pendidikan luar negeri, termasuk riwayat pendidikan Gibran.

“Di situ kita bisa melihat dari transkrip, mata pelajaran apa yang sudah diambil, kemudian capaian pembelajaran dan kesinambungan pendidikannya,” tegas Grace.

Ia juga meminta riwayat pendidikan Gibran dilihat secara utuh, bukan hanya berhenti pada pendidikan di UTS Insearch. Setelah dari institusi tersebut, Gibran melanjutkan pendidikan ke Management Development Institute of Singapore (MDIS), memperoleh Certificate Diploma, kemudian meneruskan pendidikan hingga jenjang bachelor.

“Jangan lupa satu fakta penting: setelah UTS Insearch di Australia, Gibran lanjut ke MDIS dan mendapatkan Certificate Diploma, lalu lanjut bachelor. Jadi jangan dipotong perjalanan pendidikannya, hanya di UTS Insearch,” ungkapnya.

Karena itu, Grace menilai penggunaan ketiadaan ijazah SMA sebagai dasar untuk menyimpulkan Gibran tidak tamat SMA merupakan cara pandang yang keliru jika mengabaikan sistem pendidikan yang dijalani.

“Denny Indrayana mengatakan kalau tidak ada ijazah SMA, maka tidak tamat SMA. Padahal ini adalah sistem pendidikan yang berbeda. Membodohi publik namanya kalau memaksakan logika seperti itu,” pungkas Grace. (Risky)

Komentar