Dewan Pers Dorong Solidaritas Jurnalis ASEAN Hadapi Dominasi Platform Digital

POLRI23 Dilihat

Bali – Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mendorong penguatan solidaritas jurnalis di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) untuk menghadapi perubahan teknologi dan dominasi platform digital dalam ekosistem informasi.

Dorongan tersebut disampaikan Komaruddin dalam sambutannya pada ASEAN Forum on the Protection of Journalistic Works in the Copyright Regime in the Digital Era di Tuban, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu.

Menurut Komaruddin, negara-negara ASEAN memiliki keragaman bahasa, budaya, sistem politik, sejarah, dan tradisi. Namun, negara-negara di kawasan tersebut menghadapi tantangan bersama dalam menjaga keberlanjutan jurnalisme dan melindungi nilai publik dari karya jurnalistik di tengah perkembangan teknologi digital.

“Jurnalis Asia seharusnya tidak hanya menjadi konsumen dari perubahan teknologi; kita harus berpartisipasi dalam membentuk perannya. Kita memerlukan ekosistem digital di mana inovasi dan jurnalisme dapat hidup berdampingan, platform digital dapat berkembang, tetapi kreator tidak dieksploitasi,” ujarnya.

Komaruddin menilai, perkembangan platform digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi. Pada saat yang sama, perubahan tersebut memunculkan tantangan terhadap keberlanjutan ekonomi industri pers.

Ia menegaskan, jurnalis tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi. Mereka juga perlu terlibat dalam menentukan arah pemanfaatannya agar tetap mendukung kepentingan publik dan memperkuat demokrasi.

“Mereka (jurnalis) turun ke lapangan, memverifikasi fakta, menyelidiki kekuasaan, menceritakan kisah, dan memberikan suara kepada mereka yang mungkin tidak akan didengar. Jurnalisme bukan sekadar profesi. Ini adalah layanan publik dan, dalam bentuk terbaiknya, merupakan pilar demokrasi,” katanya.

Komaruddin menjelaskan, platform digital memungkinkan karya jurnalistik menjangkau masyarakat secara luas. Namun, pemanfaatan konten melalui platform tersebut juga memunculkan persoalan mengenai pembagian nilai ekonomi antara perusahaan teknologi, jurnalis, dan organisasi media yang menghasilkan informasi.

Persoalan tersebut semakin relevan seiring perkembangan AI yang dapat memanfaatkan karya intelektual manusia, termasuk konten jurnalistik, untuk melatih sistem, mengembangkan layanan, dan menghasilkan informasi.

Komaruddin mempertanyakan apakah jurnalis yang karyanya dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sistem AI seharusnya memperoleh bagian yang adil dari nilai ekonomi yang dihasilkan teknologi tersebut.

Menurut dia, persoalan ini tidak hanya menyangkut kepentingan ekonomi industri media, tetapi juga berkaitan dengan etika dan keberlanjutan jurnalisme sebagai salah satu pilar demokrasi.

Karena itu, ia mendorong terciptanya ekosistem digital yang memungkinkan informasi beredar secara luas dengan tetap menghormati hak dan karya intelektual para penciptanya.

Teknologi, menurut Komaruddin, semestinya memperkuat demokrasi, bukan melemahkan institusi yang menopangnya.

Solidaritas Regional untuk Masa Depan Jurnalisme

Komaruddin menekankan pentingnya kerja sama dan pertukaran pengalaman di antara jurnalis negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi perubahan lanskap media.

Solidaritas regional dinilai penting agar kepentingan jurnalisme, perlindungan hak cipta, serta keberlanjutan ekonomi perusahaan media dan pekerja pers mendapat perhatian dalam perkembangan teknologi global.

“Prinsip yang harus kita pertahankan itu sederhana: Mereka yang menciptakan nilai publik seharusnya mendapatkan bagian yang adil dari nilai yang mereka ciptakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, forum tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar membahas masa depan industri pers. Diskusi juga mencakup hubungan antara demokrasi, teknologi, ekonomi, etika, dan masa depan masyarakat.

Komaruddin berharap forum ASEAN tersebut dapat memperkuat solidaritas jurnalis di kawasan sekaligus menjadi ruang untuk merumuskan ekosistem digital yang mendukung perkembangan teknologi tanpa mengorbankan kepentingan pencipta karya jurnalistik.

Ia mengajak seluruh peserta tidak hanya mendiskusikan masa depan jurnalisme, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam membentuknya agar teknologi dapat melayani kebutuhan jurnalisme dan kepentingan publik. (Lucas)

Komentar