Kabut Asap Memburuk, Malaysia Terapkan Penutupan Sekolah Berdasarkan Indeks Udara

Berita41 Dilihat

Kuala Lumpur – Menteri Pendidikan Malaysia Fadhlina Sidek membela kebijakan penutupan sekolah berdasarkan kondisi kualitas udara harian di tengah memburuknya kabut asap. Kebijakan tersebut dinilai perlu mempertimbangkan perubahan indeks pencemaran udara (API), keselamatan siswa, serta dampak terhadap kegiatan belajar.

Dalam unggahan di Facebook, Senin (12/10/2026), Fadhlina mengatakan sejumlah orang tua meminta kepastian jadwal penutupan sekolah selama beberapa hari sekaligus agar dapat merencanakan kegiatan keluarga lebih awal.

Namun, menurut dia, keputusan penutupan sekolah tidak dapat ditetapkan tanpa mempertimbangkan perubahan kualitas udara di setiap wilayah dan waktu.

“Dalam mengambil keputusan, penting untuk memahami bahwa pembacaan indeks pencemaran udara (API) dapat berubah bergantung pada waktu dan lokasi,” ujarnya.

Fadhlina mengatakan dirinya memahami kekhawatiran orang tua. Karena itu, ia meminta agar pengumuman penutupan sekolah disampaikan sedini mungkin sehingga keluarga memiliki waktu untuk mempersiapkan diri.

Ia menjelaskan, penanganan kabut asap melibatkan sejumlah lembaga dengan tanggung jawab berbeda. Departemen lingkungan bertugas memantau kualitas udara dan menangani pencemaran, sedangkan kementerian kesehatan memberikan panduan mengenai risiko kesehatan. Sementara itu, Kementerian Pendidikan berfokus pada keselamatan siswa dan pengelolaan kegiatan belajar sesuai kondisi terkini.

Fadhlina juga mengingatkan dampak gangguan pembelajaran berkepanjangan selama pandemi Covid-19. Menurut dia, upaya mengejar ketertinggalan belajar masih berlangsung dan tidak mudah dilakukan, terutama karena akses siswa terhadap fasilitas pembelajaran dari rumah berbeda-beda.

“Hingga hari ini, upaya untuk mengatasi ketertinggalan pembelajaran selama Covid-19 masih terus dilakukan. Waktu belajar yang hilang tidak mudah digantikan, terutama karena akses terhadap fasilitas pengajaran dan pembelajaran dari rumah tidak sama bagi semua siswa,” katanya.

Bagi siswa sekolah berasrama, Kementerian Pendidikan Malaysia merekomendasikan agar mereka tetap berada di asrama selama sekolah ditutup akibat kabut asap, sepanjang kondisi di asrama masih aman.

“Kementerian Pendidikan tidak ingin orang tua terbebani karena harus berulang kali menjemput dan mengantar anak-anak mereka kembali ke sekolah,” ujar Fadhlina.

Malaysia memiliki 68 stasiun pemantauan kualitas udara di seluruh negeri melalui Program Pemantauan Kualitas Lingkungan. Berdasarkan pedoman Kementerian Pendidikan, sekolah wajib ditutup jika API di wilayahnya melampaui 180. Penutupan juga diberlakukan apabila indeks berada di atas 150 selama tiga hari berturut-turut.

Memburuknya kabut asap sejak pekan lalu telah mendorong penutupan sekolah di sejumlah negara bagian di Semenanjung Malaysia. Pengumuman umumnya disampaikan sehari sebelum penutupan diberlakukan.

Sejumlah sekolah di Melaka, Negeri Sembilan, Pahang, Putrajaya, serta beberapa wilayah Kuala Lumpur dan Selangor kembali menggelar pembelajaran tatap muka pada Senin setelah kualitas udara pada Minggu membaik ke tingkat sedang, menurut laporan media setempat.

Sebaliknya, Johor yang masih menjadi salah satu wilayah paling terdampak memperpanjang penutupan seluruh sekolah dan institusi pendidikan selama lima hari, mulai 12 hingga 16 Oktober 2026.

Johor mulai menutup sekolah pada Kamis 8 Oktober, kemudian sejumlah wilayah terdampak lainnya menyusul pada Jumat 9 Oktober. Menurut laporan media setempat, keputusan penutupan sekolah berada di tangan otoritas terkait dengan mempertimbangkan kondisi kabut asap di masing-masing wilayah.

Kebijakan tersebut mencerminkan upaya pemerintah Malaysia menyeimbangkan perlindungan kesehatan siswa dengan keberlangsungan pendidikan. Di tengah kualitas udara yang berubah-ubah, keputusan penutupan sekolah dilakukan berdasarkan kondisi setempat, sementara kepastian informasi bagi orang tua tetap menjadi perhatian. (Lucas)

Komentar