Jakarta – Langkah kaki Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, mendadak berat saat menapakkan kaki di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat pagi (16/10). Mengenakan topi hitam, masker putih, dan kacamata, sang bupati memilih seribu bahasa saat dikerumuni awak media sekitar pukul 07.00 WIB.
Namun, bukan hanya kehadiran sang bupati yang mencuri perhatian pagi itu. Di sela-sela giringan tim penyidik, sebuah drum plastik berwarna biru mencolok ikut dibawa masuk. Siapa sangka, wadah sederhana yang biasa ditemukan di pekarangan rumah itu ternyata menyimpan tumpukan uang tunai senilai Rp 1,9 miliar.
“Diduga digunakan bupati untuk menampung atau menyimpan dugaan penerimaan-penerimaan uang,” ungkap Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, kepada wartawan.
Operasi senyap yang digelar pada Kamis (15/10) ini menyeret total 20 orang di dua wilayah, Klaten dan Jakarta. Sembilan orang di antaranya diterbangkan—sebagian menggunakan kereta api—langsung dari Klaten demi menjalani pemeriksaan intensif.
KPK mengendus adanya gurita korupsi yang masif di lingkungan Pemkab Klaten. Uang miliaran di dalam ember biru tersebut diduga bersumber dari berbagai klaster setoran: mulai dari proyek pengadaan barang dan jasa, urusan perizinan, hingga “upah pungut” dari berbagai Dinas atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Ngerinya lagi, suap ini diduga mengalir hingga ke hulu pemeriksaan keuangan. KPK turut mengamankan Ahmad Luthfi H. Rahmatullah, Kepala Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jawa Tengah. Uang panas tersebut diduga kuat menjadi pelicin untuk mengondisikan hasil audit atau pemeriksaan laporan keuangan Pemkab Klaten agar tetap terlihat “bersih”.
Saat ini, status hukum para pihak yang diamankan serta konstruksi detail perkara masih digodok oleh tim penyidik untuk segera diumumkan dalam konferensi pers resmi. (Fredy)








Komentar