Manchester United mengalami pembantaian. Tidak tanggung-tanggung, Como 1907 sudah membobol gawang Man Utd saat laga baru berjalan dua menit sebelum menang telak 4-1 dalam laga penyisihan Liga Champions di Giuseppe Sinigaglia, Como, Rabu (21/10/2026) malam WIB. Kekalahan memalukan yang menjadikan manajer Michael Carrick terancam.
Hasil yang sangat mengecewakan. Apalagi, Man Utd menghadapi lawan yang melakukan debut di kompetisi Eropa. Ya, Como untuk kali pertama tampil di Liga Champions.
Klub Serie A Italia yang mendapat dukungan dari perusahaan besar di Indonesia ini sukses menembus empat besar di kompetisi domestik sehingga bisa lolos ke Liga Champions.
Meski baru pertama kali eksis di Eropa, namun Como sudah menunjukkan sebagai tim yang layak diperhitungkan. Bagaimana tidak, Man Utd yang sudah lama malang-melintang di Eropa sama sekali tak berkutik saat menyambangi markas Como.
Como pun sukses mencetak kemenangan bersejarah dan Nico Paz menjadi bintang dengan mencetak dua gol spektakuler. Sementara Tasos Douvikas dan Jacobo Ramon turut menyumbang gol bagi tuan rumah.
Man Utd sendiri hanya mampu mencetak gol hiburan melalui Joshua Zirkzee pada injury time. Gol yang sepertinya ‘diberikan’ Como yang sudah menurunkan tempo permainan karena peluit akhir segera berbunyi.
Kekalahan telak ini memperpanjang catatan buruk Setan Merah yang sudah gagal meraih kemenangan dalam tujuh pertandingan terakhir. Tekanan terhadap Carrick pun semakin besar.
Pasalnya catatan tiga hasil imbang dan tiga kekalahan di semua kompetisi menjadikan The Red Devils mengawali musim kompetisi terburuk dalam sejarah 40 tahun terakhir.
Carrick seperti mengalami sindrom manajer caretaker di Man Utd. Saat menjadi pelatih sementara di musim lalu, Carrick meraih sukses besar dengan membawa Bruno Fernandes dkk menduduki peringkat tiga Premier League Inggris.
Keberhasilan itu membawa Man Utd kembali berkompetisi di Liga Champions. Dirinya pun mendapat kontrak permanen dari klub yang pernah diperkuatnya selama 12 tahun dengan meraih berbagai trofi, di antaranya lima kali juara Premier League dan sekali memenangi Liga Champions.
Namun setelah Carrick mendapat kontrak permanen, Man Utd justru kembali mengalami keterpurukan. Di kompetisi domestik, mereka masih berkutat di papan bawah. Sementara, Manchester City, Arsenal, dan Liverpool asyik bersaing memperebutkan posisi puncak.
Begitu pula di Liga Champions, Man Utd kalah bersaing dengan klub-klub Eropa. Kekalahan dari Como yang merupakan hasil buruk kedua karena sebelumnya kalah 0-2 lawan Atletico Madrid menjadikan Man Utd turun peringkat. Kini, mereka menempati posisi 20 dengan poin tiga.
Bandingkan dengan Como yang langsung melejit dengan menduduki peringkat sembilan. Tim asuhan Cesc Fabregas ini sudah mengantungi enam poin.
Hasil buruk itu menjadikan Carrick berada dalam ancaman pemecatan. Namun dirinya tak mempersoalkan posisinya di klub. Hanya, dia mengaku kecewa dengan performa tim asuhannya.
“Saya tak memikirkan posisi saya,” kata Carrick seperti dikutip france24. “Namun menyaksikan bagaimana permainan tim ini memang tidak bisa diterima. Kami tak menunjukkan performa terbaik. Kami sesungguhnya ingin bermain seperti saat menghadapi Leeds United,” ucapnya.
Namun bila laga melawan Leeds menjadi patokan, performa Man Utd memang masih di bawah standar. Bagaimana tidak, Man Utd sesungguhnya kesulitan menghadapi Leeds dan kehilangan peluang menang setelah bermain imbang 1-1.
“Saat melawan Leeds, kami bermain dengan penuh semangat, agresif dan berusaha memberikan segalanya. Tetapi penampilan kali ini sungguh bertolak belakang,” ujar Carrick lagi.
Di pertandingan itu, Man Utd memang tampil jauh di bawah harapan. Mereka kesulitan mengimbangi permainan Como dan gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang babak pertama.
Sebaliknya, Como langsung menekan dan mampu mengejutkan tim tamu ketika laga baru berjalan dua menit. Gelandang Nico Paz membawa tuan rumah unggul 1-0 setelah tendangannya membobol gawang Senne Lammens.
Gol cepat tersebut kembali memperlihatkan rapuhnya pertahanan Man Utd. Saat melawan Atletico, gawang Man Utd juga sudah kebobolan pada menit pertama.
Sebaliknya, kepercayaan diri Como semakin meningkat setelah unggul. Mereka mampu mendominasi dan terus menekan pertahanan Man Utd yang kesulitan mengembangkan permainan. Hanya serangan Como belum bisa membuahkan hasil sehingga gagal menambah gol hingga babak pertama usai.
Memasuki babak kedua, Como kembali membuat Man Utd kebobolan lewat gol cepat. Di menit 49, umpan terobosan Paz disambut Tasos Douvikas dan tendangan first time-nya membawa Como unggul 2-0.
Man Utd semakin terpuruk setelah Paz mencetak gol keduanya pada menit 57. Gol berawal dari kesalahan Carlos Baleba di lini tengah yang bolanya bisa direbut Paz. Dirinya kemudian membawa bola dan menuntaskan peluang dengan tenang untuk mengubah skor menjadi 3-0.
Paz bahkan hampir melengkapi penampilannya dengan hattrick. Namun, tembakan dia masih bisa ditepis Lammens.
Meski demikian, Como akhirnya mencetak gol keempat pada menit 76. Bek tengah Ramon turut mencatatkan nama di papan skor setelah sundulannya yang menyambut umpan silang memperlebar keunggulan menjadi 4-0.
Gol tersebut membuat pendukung Man Utd memilih meninggalkan stadion sebelum pertandingan berakhir. Zirkzee memang sempat mencetak gol pada injury time, tetapi gol itu hanya memperkecil kekalahan Man Utd yang kalah 4-1. (Natalia)








Komentar