Pabrik Sabu 1,2 Ton Dibongkar di Aceh, Kapolri Sebut Indonesia Jadi Target Produksi Narkoba

POLRI14 Dilihat

Jakarta – Kapolri Suyudi Ario Seto menyebut Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar peredaran narkotika, tetapi juga mulai menjadi target produksi jaringan narkoba internasional. Hal itu menyusul pengungkapan pabrik sabu dengan barang bukti 1,2 ton sabu berbentuk cair dan kristal di Kabupaten Pidie, Aceh.

Pabrik tersebut dibongkar dalam operasi gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN), Polri, dan Bea Cukai di sebuah rumah toko (ruko) di Gampong Beureueh Dua, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, pada 22 Oktober 2026.

Dalam operasi itu, petugas menyita peralatan produksi narkotika dan menangkap 11 orang yang diduga terlibat. Dua di antaranya merupakan warga negara asing (WNA) asal Tiongkok.

“Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa Indonesia bukan lagi sekadar pasar, melainkan target produksi jaringan internasional,” kata Suyudi dalam konferensi pers di lokasi pabrik di Pidie, Aceh, Jumat (23/10/2026).

Menurut Suyudi, pengungkapan laboratorium gelap tersebut menjadi pukulan bagi jaringan narkotika internasional sekaligus peringatan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi produksi narkoba di lingkungan tempat tinggal.

Ia meminta TNI-Polri, pemerintah, dan masyarakat memperkuat kerja sama untuk mencegah rumah, ruko, maupun bangunan lain disalahgunakan sebagai tempat memproduksi narkotika.

Kapolri Ingatkan Pemilik Ruko dan Rumah Kontrakan

Suyudi secara khusus mengingatkan pemilik ruko dan rumah kontrakan agar memeriksa identitas serta latar belakang calon penyewa. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah bangunan yang disewakan digunakan untuk kegiatan ilegal, termasuk produksi narkotika.

“Jangan apatis dengan kondisi wilayah kita, dengan tetangga kita. Hati-hati, saya berpesan terutama yang punya ruko disewakan atau rumah yang dikontrakkan harus betul-betul meyakinkan dan memastikan bahwa orang yang masuk menyewa adalah orang-orang yang betul-betul bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Suyudi menilai, keberadaan pabrik sabu di kawasan permukiman menunjukkan bahwa ancaman narkotika dapat berada dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ia juga menyebut narkotika sebagai bentuk penjajahan gaya baru yang dapat melemahkan ketahanan nasional dan merusak masa depan generasi muda.

“Negara tidak pernah kalah dan tidak akan pernah memberi ruang sedikit pun kepada para bandar narkoba di bumi pertiwi yang kita cintai ini,” tegasnya.

Pemerintah Aceh Soroti Kerawanan Jalur Laut

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, yang akrab disapa Dek Fadh, menyampaikan apresiasi kepada kepolisian dan BNN atas pengungkapan jaringan sekaligus pabrik sabu di wilayahnya.

“Atas nama Pemerintah Aceh, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kepolisian bersama BNN yang telah mengungkap jaringan dan sekaligus pabrik tempat menciptakan sabu,” kata Fadhlullah.

Ia mengatakan, kondisi geografis Aceh menjadi tantangan dalam upaya mencegah masuknya narkotika dari luar negeri. Wilayah Aceh yang dikelilingi laut dinilai rentan dimanfaatkan sebagai jalur penyelundupan.

“Aceh memiliki luas 58 ribu kilometer, luasnya dikelilingi oleh laut. Berdekatan dengan Vietnam, Kuala Lumpur, Penang, dan negara-negara sahabat,” ujarnya.

Fadhlullah mengatakan, masyarakat selama ini lebih sering mendengar kasus masuknya narkotika ke Aceh dibandingkan dengan keberadaan fasilitas produksi narkoba di wilayah tersebut.

“Biasanya kami hanya mendengar masuknya narkoba, bukan produksinya,” ujarnya.

Pengungkapan pabrik sabu tersebut, menurut dia, menunjukkan adanya ancaman yang perlu diwaspadai bersama.

“Tapi hari ini, kenyataan dan bukti yang kita lihat adalah pabrik yang didirikan di tanah, di gampong, di Bumi Serambi Mekkah ini,” ucapnya.

Fadhlullah berharap pengungkapan tersebut mendorong masyarakat memperkuat pengawasan lingkungan. Ia mengajak tokoh agama, keuchik atau kepala desa, perangkat kecamatan, hingga pemerintah kabupaten terlibat dalam upaya mencegah produksi dan peredaran narkotika.

“Mari sama-sama kita menjaga gampong,” tegasnya. (Risky)

Komentar