Soroti RSUD Mamasa yang Hanya Punya 2 Ruang Bersalin, Gibran: Kasihan Warga Terbebani Biaya Rujukan

Nasional28 Dilihat

Mamasa – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kondosapata di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, hanya memiliki dua ruang persalinan dan satu dokter spesialis kandungan. Akibat keterbatasan tersebut, pasien yang tidak tertampung harus dirujuk ke luar daerah. Kondisi ini menjadi perhatian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat meninjau rumah sakit tersebut.

Gibran meminta peningkatan kapasitas RSUD Kondosapata di Desa Penanian, Mamasa, tidak hanya berfokus pada pembangunan gedung. Ketersediaan dokter, peralatan medis, dan kesiapan pelayanan harus menjadi perhatian agar warga tidak perlu jauh-jauh mencari pengobatan.

“Kita ingin masyarakat bisa mendapat pelayanan kesehatan yang baik di daerahnya sendiri tanpa harus menempuh perjalanan jauh untuk kebutuhan yang seharusnya dapat ditangani di daerah tersebut,” ujar Gibran, dikutip dari Antara, Senin, 2 November.

Keterbatasan ruang bersalin menjadi salah satu persoalan yang ditemukan. Saat ini, rumah sakit tersebut hanya memiliki dua ruang persalinan. Jika jumlah pasien melebihi kapasitas, sebagian harus dirujuk ke luar Kabupaten Mamasa.

Rujukan tersebut bukan hanya persoalan jarak. Meskipun biaya pelayanan kesehatan dapat ditanggung BPJS Kesehatan, pasien dan keluarganya masih berpotensi mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi dan penginapan selama menjalani pengobatan di luar daerah.

Persoalan lain adalah kekurangan dokter spesialis. Pelaksana Tugas Direktur RSUD Kondosapata Naomi Bungan mengungkapkan, rumah sakit saat ini baru memiliki satu dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) atau dokter kandungan, sementara kebutuhan mencapai dua orang.

Selain dokter kandungan, rumah sakit telah memiliki dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), dokter spesialis gigi, serta dokter anestesi.

Untuk melengkapi kebutuhan tenaga medis lainnya, manajemen rumah sakit menjalin kerja sama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas).

“Selebihnya itu kami MoU dengan Unhas (Universitas Hasanuddin) untuk pemenuhan dokter yang lain,” kata Naomi.

Gibran menegaskan pembangunan rumah sakit harus berjalan seiring dengan pemenuhan tenaga kesehatan dan peralatan medis. Menurutnya, bangunan yang selesai dibangun tidak banyak membantu jika rumah sakit belum mampu memberikan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.

“Rumah sakit ini sangat dibutuhkan masyarakat. Kita ingin pembangunannya berjalan baik, tapi yang tidak kalah penting adalah kesiapan dokter, alat kesehatan, dan pelayanan kepada pasien. Jangan sampai gedungnya sudah selesai, tetapi fasilitas dan tenaga medisnya belum siap,” tegasnya.

Dalam kunjungan tersebut, Gibran memeriksa sejumlah fasilitas pelayanan, mulai dari poliklinik THT, penyakit dalam, bedah, saraf, kandungan, gigi, kejiwaan, hingga anak.

Ia juga meninjau ruang bersalin dan melihat langsung kesiapan fasilitas bagi ibu yang akan melahirkan.

Selain meminta peningkatan pelayanan, Gibran mengingatkan agar pekerjaan pembangunan rumah sakit tidak mengganggu pasien yang sedang menjalani perawatan.

“Selama pembangunan, bagaimana pelayanan pasien? Tolong pastikan tidak mengganggu keselamatan dan kenyamanan pasien,” katanya.

Gibran turut menanyakan langkah manajemen untuk memenuhi kekurangan dokter spesialis, termasuk kemungkinan memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi.

Peningkatan kapasitas RSUD Kondosapata diharapkan dapat mengurangi kebutuhan rujukan ke luar Kabupaten Mamasa. Dengan begitu, masyarakat bisa memperoleh pelayanan kesehatan lebih dekat dari tempat tinggalnya tanpa harus menanggung beban perjalanan dan biaya tambahan. (Lucas)

Komentar