Tolak Wajib Militer dan Krisis Ekonomi, Ratusan Ribu Pemuda Kepung Kota-Kota Besar Jerman

Berita10 Dilihat

Berlin – Lebih dari 100.000 orang, yang sebagian besar merupakan kaum muda, menggelar aksi protes damai di seluruh Jerman, untuk menuntut sejumlah hal kepada pemerintah.

Mereka meminta pemerintah untuk menginvestasikan lebih banyak dana di bidang pendidikan, perumahan, dan perlindungan iklim, serta membuat biaya hidup sehari-hari menjadi lebih terjangkau.

Di beberapa kota, aksi protes tersebut berubah menjadi kekerasan pada malam harinya. Seperti yang terjadi di Frankfurt, para perusuh menyerang polisi di pusat kota dan menjarah sejumlah toko.

Lebih dari 100 petugas kepolisian terluka, dan 54 orang dengan rentang usia 13 hingga 29 tahun ditahan. Belum diketahui secara pasti berapa jumlah pengunjuk rasa yang mengalami luka-luka.

Selain itu, pihak kepolisian juga menyatakan bahwa 17 toko mengalami kerusakan, lima di antaranya dijarah. Namun aetelah polisi menutup akses di area pusat kota, situasi berangsur tenang.

“Saya terkejut dengan tindakan kekerasan yang terjadi di Frankfurt; perbuatan ini tidak akan dibiarkan tanpa hukuman,” kata Boris Rhein, gubernur negara bagian Hesse, dilansir dari AP, Senin (2/11/2026).

“Siapa pun yang berperilaku seperti para pelaku penyerangan di pusat kota Frankfurt telah menempatkan diri mereka di luar tatanan masyarakat kita,” imbuhnya.

Kekerasan juga pecah pada Sabtu malam di Cologne, di mana polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan massa. Di Berlin, para pengunjuk rasa menyerang polisi dengan botol dan kembang api.

Menanggapi hal itu, Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, menuding kelompok kiri yang penuh kekerasan serta para pembuat onar dari komunitas imigran telah menyusupi dan membajak demonstrasi damai tersebut.

“Para perusuh dan penjarah ini akan diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban,” kata Dobrindt. (Lucas)

Komentar