Badai di Istana: 4 Jenderal Tersangka Penyadapan Prabowo, Mensesneg Mulai ‘Operasi Bersih-bersih’

Nasional37 Dilihat

Jakarta – Lingkaran terdalam Istana Kepresidenan Kabinet Merah Putih kini tengah diguncang prahara besar. Pasca-terbongkarnya skandal dugaan penyadapan ilegal yang menyasar langsung Presiden Prabowo Subianto, pemerintah bergerak cepat melakukan operasi “bersih-bersih” besar-besaran demi mengamankan jantung pertahanan negara.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa Istana tidak akan tinggal diam. Evaluasi total dan penyisiran ketat terhadap profil orang-orang di ring satu Presiden kini sedang berjalan di tengah proses hukum yang memanas.

“Kalau kewaspadaan kan terus-menerus ya, kewaspadaan terus-menerus, bersih-bersih terus kok,” ujar Prasetyo dengan nada tegas saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (6/11/2026).

Langkah radikal ini diambil bukan tanpa alasan. Skandal spionase domestik ini bukan lagi sekadar isu, melainkan riak politik luar biasa yang menyeret nama-nama besar di korps Bhayangkara.

Kejatuhan Para Petinggi: 4 Jenderal Resmi Jadi Tersangka

Hingga saat ini, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah menetapkan empat perwira tinggi polisi sebagai tersangka dalam pusaran kasus spionase gelap ini.

Gelombang penetapan tersangka pertama diumumkan langsung oleh Kabareskrim Polri, Komjen Asep Safrudin, pada Selasa (3/11/2026) malam. Tiga nama besar langsung diseret ke meja hukum:

  • Jenderal Pol. (Purn) Listyo Sigit Prabowo (Mantan Kapolri)
  • Irjen Pol. Ahrie Sonta Nasution
  • Irjen Pol. Eko Hadi Santoso

Ketiga jenderal tersebut kini telah dijebloskan ke sel tahanan Mako Brimob untuk menjalani pemeriksaan intensif.

Tersangka Baru dan Jenderal yang Sakit

Tidak berhenti di sana, perburuan aktor di balik layar terus berkembang. Pada Kamis (5/11/2026) malam, Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Suhermanto, kembali mengumumkan satu tersangka baru yang berinisial SU.

“Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menyampaikan perkembangan penyidikan terkait peningkatan status tersangka dengan inisial SU,” jelas Suhermanto di Mabes Polri.

Sosok SU dipastikan adalah Irjen Pol. Slamet Uliandi. Namun berbeda dengan tiga koleganya yang sudah mendekam di Mako Brimob, Slamet Uliandi belum ditahan oleh penyidik karena alasan kemanusiaan, mengingat kondisinya yang tengah berjuang pulih pascastroke.

Kasus penyadapan orang nomor satu di Indonesia ini menjadi ujian terberat bagi soliditas aparat penegak hukum dan keamanan siber nasional. Hingga saat ini, Bareskrim Polri masih terus mendalami motif dan mencari tahu apakah ada jaringan yang lebih luas di balik konspirasi ini. Istana kini dalam kondisi siaga satu siber. (Lucas)

Komentar