Kutim – Tim Macan Satreskrim Polres Kutai Timur mengungkap kasus pencurian perhiasan emas yang terjadi di salah satu toko emas di kawasan Jalan Yos Sudarso, Sangatta Utara. Hanya dalam hitungan jam setelah laporan diterima, polisi berhasil mengidentifikasi hingga mengamankan para pelaku yang diduga terlibat dalam aksi kejahatan dengan modus menukar emas asli dengan perhiasan palsu.
Kasus ini bermula pada Senin (22/6/26) sekitar pukul 10.30 Wita. Saat itu, seorang perempuan berpura-pura menjadi calon pembeli mendatangi sebuah toko emas.
Pelaku meminta karyawan toko untuk menunjukkan beberapa jenis perhiasan emas dan berpura-pura tertarik untuk membeli. Ketika karyawan toko sedang sibuk menuliskan rincian harga dan menyiapkan transaksi, pelaku diduga memanfaatkan kelengahan tersebut untuk menjalankan aksinya.
“Perhiasan emas asli yang sedang diperlihatkan ditukar dengan perhiasan imitasi yang telah dipersiapkan sebelumnya,” ungkap Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto, Kamis (25/6/26).
Usai menjalankan aksinya, ujar Kapolres, pelaku berpamitan dengan alasan hendak mengambil uang di mesin ATM untuk melakukan pembayaran. Namun hingga beberapa waktu kemudian, pelaku tidak pernah kembali ke toko.
Setelah dilakukan pengecekan, ungkapnya, pemilik toko menyadari bahwa sejumlah perhiasan yang ditinggalkan pelaku ternyata merupakan barang palsu. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami kerugian hilangnya perhiasan emas asli dengan berat sekitar 13 gram.
“Laporan kemudian diterima Polres Kutai Timur melalui Satreskrim. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Macan bergerak cepat melakukan serangkaian penyelidikan,” jelas Kapolres.
Ia menyampaikan, penyidik tidak hanya mengandalkan keterangan saksi, tetapi juga melakukan penyisiran dan pengumpulan rekaman CCTV dari sejumlah titik yang diduga dilalui pelaku. Dari rekaman tersebut, penyidik memetakan pergerakan para pelaku, termasuk kendaraan yang digunakan saat menjalankan aksinya.
“Di saat yang sama, petugas juga melakukan patroli siber untuk menelusuri kemungkinan identitas pelaku berdasarkan pola dan ciri-ciri yang terekam kamera pengawas,” ungkapnya.
Ditambahkannya, proses analisis yang dilakukan secara berlapis akhirnya membuahkan hasil. Tim mengidentifikasi identitas terduga pelaku utama, memperoleh petunjuk nomor kendaraan yang digunakan, serta menemukan lokasi rental mobil yang diduga menjadi sarana operasional para pelaku.
Berbekal informasi tersebut, ujarnya, Satreskrim Polres Kutai Timur berkoordinasi dengan Unit Jatanras Polresta Samarinda untuk melakukan pelacakan lebih lanjut. Kolaborasi lintas wilayah itu kemudian mengarah pada keberadaan para pelaku di daerah Kota Samarinda.
Dalam operasi yang dilakukan secara cepat, polisi mengamankan tiga orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut, masing-masing berinisial PS (32), S (44), dan M (53). Selain mengamankan para terduga pelaku, petugas juga menyita sejumlah barang bukti, di antaranya satu unit mobil yang diduga digunakan saat beraksi, perhiasan imitasi yang digunakan untuk menjalankan modus penukaran, telepon genggam, serta sejumlah barang lain yang berkaitan dengan perkara.
“Hasil penyelidikan sementara mengungkap bahwa pelaku utama bukanlah pemain baru dalam dunia kejahatan,” jelasnya.
Polisi menemukan fakta bahwa tersangka perempuan berinisial PS merupakan seorang residivis yang sebelumnya pernah menjalani proses hukum dalam kasus serupa. Penyidik juga menduga kelompok tersebut telah menjalankan aksinya di sejumlah daerah di Indonesia.
Informasi yang diperoleh menunjukkan adanya aktivitas kejahatan dengan pola serupa di beberapa kota dan kabupaten, termasuk di Kalimantan, Jawa, hingga Bali. Temuan ini membuat penyidik tidak hanya fokus pada kasus yang terjadi di Sangatta, tetapi juga melakukan pengembangan untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan para pelaku dalam jaringan kejahatan lintas daerah.
“Kecepatan pengungkapan ini merupakan wujud komitmen Polres Kutai Timur dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat. Begitu laporan diterima, anggota langsung bergerak melakukan olah tempat kejadian perkara, mengumpulkan rekaman CCTV, melakukan analisis digital, hingga berkoordinasi dengan jajaran kepolisian di wilayah lain,” ujar AKBP Fauzan Arianto.
Menurutnya, sinergi antarsatuan dan dukungan teknologi menjadi faktor penting dalam mengungkap kasus yang pelakunya berusaha menghilangkan jejak dengan berpindah-pindah wilayah.
“Kasus ini menunjukkan bahwa pelaku kejahatan tidak mudah lagi bersembunyi. Jejak digital, rekaman CCTV, dan kerja sama antarwilayah menjadi kekuatan utama dalam mengungkap tindak pidana. Kami akan terus melakukan pengembangan untuk memastikan apakah para tersangka juga terlibat dalam aksi serupa di daerah lain,” jelasnya.
Kapolres juga mengimbau para pelaku usaha, khususnya pemilik toko emas dan toko perhiasan, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus kejahatan yang terus berkembang.
“Pelaku memanfaatkan kelengahan dan membangun kepercayaan terlebih dahulu sebelum menjalankan aksinya. Karena itu kami mengimbau pelaku usaha untuk meningkatkan pengawasan, memanfaatkan CCTV secara optimal, dan segera melaporkan apabila menemukan aktivitas yang mencurigakan,” ungkapnya.
Saat ini ketiga tersangka telah diamankan di Polres Kutai Timur untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Penyidik masih terus mendalami aliran barang hasil kejahatan serta kemungkinan adanya korban lain di berbagai daerah. (Fredy)
Polisi Ungkap Pencurian Emas 13 Gram, Bongkar Jaringan Pelaku Lintas Provinsi






