Mahasiswa S2 STIK Lemdiklat Polri Angkatan 16 Berikan Bahan Pokok dan Trauma Healing untuk Korban Gempa NTT

POLRI34 Dilihat

Jakarta – Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri Angkatan 16 menggelar bakti sosial (baksos) bagi masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, (29/8/2026).

Bantuan tersebut disalurkan untuk meringankan beban warga yang hingga kini masih bertahan di tengah situasi pascabencana. Sejumlah kebutuhan pokok diberikan kepada masyarakat di Dusun Wairhabi, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, serta bantuan yang dikirim melalui Pelabuhan Lorens Say untuk selanjutnya disalurkan ke wilayah Pelabuhan Palue, Kecamatan Palue.

Bantuan kebutuhan sehari-hari menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi warga yang kehilangan kenyamanan rumah dan harus menjalani hari-hari di lokasi pengungsian. Sembako yang diberikan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama masa pemulihan.

Bantuan tersebut berupa beras merek Cap Tani, minyak goreng Lentera, air mineral Aqua, susu bubuk Dancow, mi instan rasa soto, serta popok bayi.

Di Dusun Wairhabi, bantuan diterima oleh Agustinus Nong Viles selaku koordinator posko pengungsian. Posko tersebut menampung warga dari tiga wilayah, yakni Dusun Wairhabi, Dusun Habigahar, dan Kelurahan Waiot.

Tercatat sebanyak 159 kepala keluarga berada di posko pengungsian tersebut. Mereka merupakan bagian dari masyarakat yang harus menghadapi dampak gempa sekaligus beradaptasi dengan kondisi kehidupan di tempat pengungsian.

Kehadiran para mahasiswa S2 STIK Lemdiklat Polri Angkatan 16 tidak sekadar membawa paket sembako. Mereka juga melakukan trauma healing bagi korban gempa, bakti kesehatan.

Di tengah situasi sulit yang masih dihadapi para penyintas, bantuan itu menjadi pesan bahwa mereka tidak berjalan sendiri menghadapi bencana.

Kegiatan sosial tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama saudara sebangsa dan setanah air.

“Kami ingin mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang membutuhkan uluran tangan setelah bencana gempa mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya.” ucap Kombes Didit Bambang Wibowo, selaku perwira pendamping mahasiswa S2 STIK 16, kepada awak media, Sabtu (29/8/2026).

Semangat gotong royong menjadi semakin penting ketika kebutuhan masyarakat terdampak masih terus bermunculan. Terlebih, sejumlah wilayah di NTT memiliki kondisi geografis yang membuat distribusi bantuan tidak selalu mudah dilakukan. Karena itu, bantuan yang sampai ke tangan warga memiliki arti lebih dari sekadar nilai barang, tetapi juga menjadi bentuk solidaritas dan kepedulian kemanusiaan.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026 sekitar pukul 04.58 WIB. BMKG mencatat episenter gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut juga sempat memicu peringatan dini tsunami.

Bencana tersebut berdampak luas di NTT. Data pemerintah daerah dan lembaga penanggulangan bencana mencatat tujuh kabupaten terdampak, yakni Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Hingga pembaruan BNPB pada Sabtu (29/8/2026), jumlah korban meninggal dunia mencapai 111 orang, sementara ratusan ribu warga terdampak dan sebagian harus mengungsi. Data kesehatan NTT per 24 Agustus mencatat sekitar 299.145 orang mengungsi di tujuh kabupaten tersebut.

Di tengah proses pemulihan yang masih panjang dan gempa susulan yang masih terjadi, aksi kemanusiaan seperti yang dilakukan mahasiswa S2 STIK Lemdiklat Polri Angkatan 16 menjadi pengingat bahwa pemulihan sebuah bencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan fasilitas umum, tetapi juga memastikan para penyintas merasa diperhatikan, didampingi, dan tidak sendirian.

Kegiatan ini turut dibantu oleh personel Polda NTT dan dihadiri Kapolres AKBP Bambang Supeno,S.I.K. (Risky)

Komentar