Legislator Sampaikan Keprihatinan Atas Meninggalnya 94 Pengungsi Gempa NTT

Politik4 Dilihat

Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian menyampaikan keprihatinan mendalam atas meninggalnya 94 warga yang berada di tempat pengungsian pascagempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurutnya, besarnya angka tersebut harus menjadi perhatian serius dalam evaluasi perlindungan dan pelayanan bagi masyarakat setelah bencana, mengingat korban meninggal dunia bukan karena tertimpa reruntuhan gempa.

“Saya turut berduka sedalam-dalamnya kepada keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Bayangkan, mereka sudah berhasil menyelamatkan diri dari gempa, tetapi kemudian kondisi kesehatannya memburuk dalam masa pengungsian,” kata Hetifah, dalam keterangan persnya, dikutip Jumat (18/9/2026).

Ia menilai, kondisi pengungsian sendiri dapat menjadi tantangan kesehatan yang berat. Sehingga pihaknya mendorong BNPB, Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah dan unsur terkait melakukan evaluasi terhadap 94 kasus kematian tersebut secara lebih rinci.

Termasuk profil usia, penyakit penyerta, lama berada di pengungsian, kesinambungan pengobatan, kondisi tempat pengungsian, akses terhadap tenaga kesehatan, serta kecepatan rujukan sebelum korban meninggal.

“Tujuannya bukan mencari siapa yang harus disalahkan. Kita perlu mengetahui apakah ada kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Kalau ada titik lemah dalam sistem kita, harus diperbaiki sekarang agar tidak terulang pada bencana berikutnya,” jelasnya.

Hetifah juga mendorong agar setiap lokasi pengungsian mempunyai pendataan kelompok rentan secara by name by need, bukan sekadar menghitung jumlah pengungsi. 

Pasalnya, lansia dan warga dengan penyakit kronis perlu diketahui jenis penyakit dan obat rutinnya, ibu hamil harus terpantau, bayi dan balita diperiksa berkala, dan penyandang disabilitas harus mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya.

“Di pengungsian, kebutuhan setiap orang tidak sama. Seorang lansia penderita diabetes tidak cukup hanya diberi makanan dan tenda. Ia membutuhkan obat, pola makan yang sesuai dan pemantauan. Bayi membutuhkan kehangatan dan nutrisi. Ibu hamil membutuhkan pemeriksaan. Penyandang disabilitas mungkin membutuhkan pendamping dan fasilitas yang aksesibel. Sistem kita harus mampu mengenali perbedaan kebutuhan tersebut,” paparnya.

Oleh sebab itu, kata Hetifah, tragedi NTT harus menjadi pelajaran penting bagi tata kelola kebencanaan nasional. Karena ukuran keberhasilan penanganan bencana juga dihitung dari berapa banyak nyawa yang dilndungi setelah evakuasi. (Fredy)

Komentar