Revitalisasi Keraton Surakarta Dimulai, 13 Kawasan Bersejarah hingga Museum Diperbaiki

Berita9 Dilihat

Surakarta – Kementerian Kebudayaan mulai merevitalisasi 13 titik di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Jawa Tengah. Pekerjaan mencakup pemulihan bangunan bersejarah, penataan museum dan perpustakaan, konservasi koleksi, hingga perbaikan pengelolaan kawasan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mencanangkan revitalisasi tersebut melalui peletakan batu pertama di Keraton Surakarta, Rabu (23/9/2026). Ia mengatakan pemerintah ingin menjaga bangunan bersejarah sekaligus melestarikan tradisi dan pengetahuan yang masih hidup di lingkungan Keraton.

“Revitalisasi yang kita canangkan ini merupakan wujud komitmen pemerintah untuk menjaga dan merawat warisan budaya yang ada di Keraton Surakarta. Kita tidak hanya ingin memulihkan bangunan-bangunan bersejarah, tetapi juga menjaga nilai dan tradisi yang hidup di dalamnya,” kata Fadli.

Sebanyak 13 titik yang menjadi sasaran revitalisasi meliputi Pagelaran, Sitinggil, Museum Keraton, Kasentanan, Panti Pidana, Keraton Kilen, Keputren, Ndalem Ageng, kawasan Kamandungan, Bangsal Pradonggo, Sasana Handrawina, Panggung Sangga Buwana, serta bangunan di kawasan Keraton Kilen dan Sino Renggo.

Penanganan Museum Keraton mencakup konservasi koleksi, pendataan artefak, penataan ruang pamer, dan penguatan informasi sejarah. Pemerintah juga ingin meningkatkan kualitas perpustakaan agar koleksi dan pengetahuan yang tersimpan lebih mudah diakses masyarakat.

“Setelah revitalisasi selesai, kita berharap Keraton Kasunanan Surakarta menjadi satu kantong budaya yang penting di Indonesia, termasuk sebagai pusat edukasi, pusat narasi, dan pusat literasi,” ujar Fadli.

Revitalisasi tidak hanya menyasar bangunan. Pemerintah juga menyiapkan peningkatan kemampuan Sentana Dalem dan Abdi Dalem, pewarisan pengetahuan, serta perbaikan tata kelola budaya.

Fadli meminta pengelolaan kawasan dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel. Menurut Fadli, pelestarian warisan budaya harus berjalan bersama dengan pemanfaatannya secara berkelanjutan.

“Budaya ini bukan cost center, bukan beban biaya, tetapi merupakan investasi. Karena itu, kita harus menjaga, melindungi, sekaligus memanfaatkan aset-aset budaya kita sehingga ekosistemnya hidup dan dapat berkelanjutan,” katanya.

Keraton Surakarta yang dibangun pada 1744–1745 telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2026 tertanggal 18 Januari 2026.

KGPH Panembahan Agung Tedjowulan menyambut revitalisasi tersebut. Ia mengatakan akan mengajak generasi muda di lingkungan Keraton memahami tugas, tanggung jawab, hak, dan kewajiban masing-masing.

Pada kesempatan yang sama, Fadli meresmikan Kantoran Ndalem sebagai kantor Tedjowulan untuk menunjang tugasnya sebagai Pelaksana Keraton Surakarta. (Risky)

Komentar