Paris Membara, Macron Terbang ke Teluk Persia Demi Berburu Gas dan Minyak

Berita21 Dilihat

Paris – Di saat jalanan kota Paris membara oleh gas air mata dan kobaran api demonstrasi, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengambil keputusan berani. Ia memilih tetap terbang meninggalkan negaranya demi misi diplomatik krusial ke negara-negara Teluk, mulai Senin hingga Rabu (21/10/2026).

Langkah ini diambil Macron di tengah gelombang protes 550.000 rakyat Prancis yang marah akibat lonjakan biaya hidup dan meroketnya harga bahan bakar. Bukannya menetap di Istana Élysée untuk meredam amarah massa, Macron justru menegaskan bahwa kunci penyelesaian krisis ini ada di Timur Tengah.

“Para pengunjuk rasa telah menyampaikan kekhawatiran mereka mengenai biaya hidup. Saya telah mengambil beberapa inisiatif internasional untuk menjamin pasokan bahan bakar dan gas serta menangani gejolak pasar energi,” tegas Macron dalam pidato daruratnya dari Istana Élysée, Minggu (18/10/2026).

Misi berburu energi ini akan membawa Macron mengunjungi empat kekuatan besar Teluk: Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Prancis di Ambang Kekacauan: 2.000 Orang Ditahan!

Sementara Macron bersiap lepas landas, kondisi di dalam negeri Prancis justru mendekati status darurat. Demonstrasi raksasa pada Sabtu (17/10/2026) berubah menjadi kerusuhan massal yang mencekam.

Pusat kota Paris dan beberapa wilayah lainnya berubah menjadi medan pertempuran:

  • Fasilitas Umum Hancur: Kelompok pemuda membakar mobil, menghancurkan halte bus, dan menjarah toko-toko.
  • Respon Keras Polisi: Petugas terpaksa mengerahkan meriam air, granat kejut, dan gas air mata untuk memecah massa.
  • Korban Berjatuhan: Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengonfirmasi lebih dari 2.000 perusuh telah ditahan, sementara 600 polisi dan pemadam kebakaran terluka dalam bentrokan berdarah tersebut.

Kini, publik dunia dan rakyat Prancis tengah menyoroti langkah judi politik Macron. Apakah pulang dari negara Teluk ia berhasil membawa “oleh-oleh” stabilitas energi yang mampu menjinakkan amarah rakyatnya, ataukah ketidakhadirannya di Paris justru akan membuat Prancis semakin terbakar? (Lucas)

Komentar