Kemajuan Jalur Diplomasi, Trump Coret Rencana Serangan Susulan ke Iran

Berita8 Dilihat

Washington, DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memastikan bahwa dirinya tidak berencana meluncurkan operasi militer baru terhadap Iran pasca-Pemilu paruh waktu. Keputusan ini diambil karena ia melihat adanya perkembangan positif dari proses diplomasi yang sedang berjalan.

“Sama sekali tidak,” tegas Trump saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai potensi serangan susulan ke Iran selepas Pemilu, dalam sebuah agenda kampanye di Washington, Selasa (3/11/2026).

Di hadapan para pendukungnya, Trump kembali menekankan komitmen AS untuk menutup rapat peluang Iran dalam mengembangkan persenjataan nuklir. Ia mengklaim pihak Teheran sudah menyadari betul ketegasan sikap Washington tersebut. Ia juga meminta para pemilih untuk mengingat keberhasilan pemerintahannya dalam meredam ambisi nuklir Iran ketika memberikan suara di tempat pemungutan suara (TPS).

Menurut Trump, menahan laju program nuklir Teheran adalah langkah krusial. Jika tidak dihentikan, ia memperingatkan bahwa negara tersebut akan mengalami kelumpuhan total.

“Langkah pencegahan itu sudah kita lakukan setahun lalu memanfaatkan armada pengebom B-2. Operasi tersebut sukses menghancurkan target operasional mereka,” ungkap Trump.

Politisi dari Partai Republik ini juga mengindikasikan bahwa dialog diplomatik yang sedang berlangsung memberikan sinyal positif, yang salah satunya berdampak pada penurunan harga komoditas energi global. “Ini kemungkinan besar menjadi faktor utama di balik merosotnya harga minyak dunia secara tajam,” imbuhnya.

Sementara itu, dalam sesi wawancara terpisah bersama Axios, Trump mengaku tidak ingin gegabah dalam mengambil opsi serangan militer langsung ke wilayah Iran. “Tindakan pasti akan diambil, namun kami tidak dalam situasi yang mendesak,” tuturnya.

Trump meyakini sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS telah berhasil memberikan pukulan telak bagi kestabilan finansial Iran. Ia menggambarkan kondisi negara tersebut tengah mengalami krisis keuangan dan kelangkaan bahan bakar, sementara masyarakatnya mulai jenuh dengan situasi yang ada.

Meski menuduh tim negosiator Iran sengaja memperlambat proses perundingan, Trump menyebut saluran komunikasi kedua negara tetap terjaga dengan baik. “Mereka mungkin terlihat tidak terburu-buru, tetapi sebenarnya mereka sangat mengharapkan adanya kesepakatan damai dibandingkan waktu-waktu sebelumnya,” jelas Trump.

Sikap melunak dari Washington ini muncul di tengah kabar adanya tekanan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Lewat sambungan telepon, Netanyahu dilaporkan mendesak AS agar segera mengambil tindakan militer begitu Pemilu paruh waktu usai. Namun, seperti yang dilaporkan Axios, Trump memilih untuk mengabaikan kekhawatiran Israel dan tetap memprioritaskan jalur negosiasi. (Lucas)

Komentar