Beijing – China secara mengejutkan langsung mengambil komando diplomasi global setelah tensi di Timur Tengah kembali berada di titik nadir. Menanggapi gertakan perang yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran, Beijing menegaskan bahwa mencegah ledakan pertempuran baru di kawasan tersebut kini menjadi “prioritas utama” yang tidak bisa ditawar.
Langkah cepat ini memicu perhatian dunia, mengingat status China sebagai raksasa ekonomi yang memiliki pengaruh kuat atas negara-negara teluk.
“Prioritas utamanya adalah mencegah berlanjutnya permusuhan di Timur Tengah, yang akan membawa bencana bagi penduduk di kawasan tersebut,” tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers yang berlangsung panas pada Rabu (4/11/2026).
Gerilya Diplomasi Senyap Beijing
Tidak sekadar melempar retorika, Beijing langsung meluncurkan strategi gerilya diplomasi yang agresif sepanjang pekan ini:
- Menghubungkan Dua Musuh Bebuyutan: China secara terbuka menyatakan siap memediasi AS dan Iran agar mau menurunkan ego dan kembali ke meja perundingan.
- Koalisi Strategis Kawasan: Istana Kepresidenan Beijing menjadi saksi pertemuan kilat antara pejabat tinggi Iran, Oman, dan Arab Saudi demi menyatukan suara.
- Pesan Menohok Xi Jinping: Saat menerima kunjungan Sultan Oman, Presiden China Xi Jinping memberikan peringatan keras agar Timur Tengah tidak dijadikan “arena bermain” atau lahan pergulatan bagi persaingan negara-negara besar.
Misi Rahasia Akhir Bulan
Menutup keterangannya, Mao Ning membocorkan bahwa Beijing akan segera mengutus perwakilan khusus Timur Tengah untuk melakukan shuttle diplomacy (diplomasi ulang-alik) langsung ke jantung konflik: Iran, Oman, dan Arab Saudi.
Misi utama China di akhir bulan ini sangat jelas: menjinakkan konflik Yaman, membuka blokade Selat Hormuz, dan menggagalkan potensi Perang Dunia Ketiga sebelum semuanya terlambat. (Risky)









Komentar