Mesir – Negosiator Amerika Serikat (AS) sekaligus menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, mengadakan pertemuan dengan pemimpin Hamas sebagai bagian dari upaya diplomatik baru untuk memajukan proses gencatan senjata Gaza yang sempat terhenti.
Pembicaraan tersebut bertujuan untuk menyelamatkan peta jalan baru berisi 15 poin yang didukung AS, yang mencakup pelucutan senjata Hamas di Gaza dan penarikan pasukan Israel dari wilayah Palestina yang hancur akibat perang.
Adapun pertaruhan utama dalam pembicaraan itu adalah nasib sekitar 2 juta penduduk Gaza serta rekonstruksi wilayah padat penduduk yang kini sebagian besar dikuasai oleh pasukan Israel, selama lebih dari 10 bulan setelah gencatan senjata diberlakukan.
Dilansir dari AP, pertemuan langka antara negosiator AS dengan tokoh Hamas, Khalil al-Hayya, yang berlangsung di Mesir tersebut dikonfirmasi oleh seorang pejabat regional dan seorang pejabat Hamas. Namun, keduanya berbicara dengan syarat anonimitas karena tidak memiliki wewenang untuk berbicara.
Setelah bertemu pimpinan Hamas, Kushner juga dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pada hari Senin. Namun menjelang pertemuan itu, sejumlah negara termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengeluarkan pernyataan yang mengecam penolakan Israel terhadap peta jalan tersebut.
Pasalnya, Netanyahu pekan lalu telah menolak rencana 15 poin tersebut dalam sebuah pernyataan terbuka yang jarang terjadi terhadap pemerintahan Trump, yang merupakan sekutu terdekat Israel.
“Israel kini memikul tanggung jawab atas terhambatnya upaya mewujudkan perdamaian di Gaza,” kata pernyataan bersama dari negara-negara regional yang mengecam tindakan Israel.
Adapun pihak lain yang turut menandatangani pernyataan tersebut meliputi Yordania, Pakistan, Indonesia, serta negara-negara penengah gencatan senjata. Negara-negara tersebut juga mendesak Dewan Perdamaian dan Amerika Serikat untuk mengambil langkah konkret guna mencegah pihak mana pun menghalangi pelaksanaan gencatan senjata. (Risky)








Komentar