Washington, DC – Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato primetime dari Gedung Putih pada Kamis (16/7/2026) dengan menuduh China melakukan intervensi dalam pemilu 2020 dan menyoroti “kerentanan mengejutkan” dalam sistem pemungutan suara Amerika.
Trump mengklaim telah mendeklasifikasi ratusan dokumen intelijen yang disebut mendukung tuduhannya bahwa Beijing berusaha memengaruhi hasil pemilu demi Joe Biden. Namun, komunitas intelijen AS sebelumnya menyimpulkan bahwa China tidak melakukan intervensi dalam pemilu tersebut.
Kementerian Luar Negeri China langsung membantah tuduhan itu, menyebutnya “sepenuhnya dibuat-buat” dan “fitnah jahat.” Juru bicara Lin Jian menegaskan klaim Trump telah lama terbukti tidak berdasar.
Dalam pidatonya, Trump menuding China memperoleh secara ilegal 220 juta data pemilih dari 18 negara bagian. Ia juga menyoroti dugaan penipuan registrasi pemilih di Michigan serta klaim adanya 278.000 non-warga negara yang terdaftar sebagai pemilih. Meski begitu, Trump tidak memberikan bukti bahwa data tersebut digunakan untuk mengubah hasil pemilu.
Partai Demokrat menilai pidato itu sebagai upaya Trump untuk menimbulkan keraguan terhadap keamanan pemilu sela November mendatang. Ketua Senat Demokrat Chuck Schumer menegaskan, “Di Amerika, rakyatlah yang memilih pemimpin, bukan sebaliknya.”
Laporan intelijen AS tahun 2021 menyatakan dengan “keyakinan tinggi” bahwa China tidak melakukan upaya intervensi. Sementara itu, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS menyebut pemilu 2020 sebagai “yang paling aman dalam sejarah Amerika.”
Pidato ini muncul di tengah turunnya tingkat persetujuan publik terhadap Trump, dengan survei Washington Post-Ipsos menunjukkan angka hanya 37 persen, diwarnai kekhawatiran atas biaya hidup dan konflik dengan Iran. (Natalia)








Komentar